Palestina

Intersepsi Armada Kemanusiaan Global Sumud oleh Israel Tuai Kecaman Internasional, Puluhan Relawan Ditahan

Logo

Posted by: Adithya Fahmi Rifanka

01 May 2026 19:05 WIB

Intersepsi Armada Kemanusiaan Global Sumud oleh Israel Tuai Kecaman Internasional, Puluhan Relawan Ditahan
Foto: Istimewa

Ketegangan di kancah global kembali memuncak menyusul tindakan agresif pasukan Israel yang mencegat dan menyerang Armada Kemanusiaan laut Al-Sumud (Global Sumud Flotilla) di perairan internasional. Insiden pembajakan yang terjadi saat kapal-kapal tersebut berlayar meninggalkan perairan teritorial Pulau Kreta, Yunani, memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Armada Al-Sumud dicatat sebagai mobilisasi laut sipil terkoordinasi terbesar yang bertujuan menuju Jalur Gaza untuk menembus blokade laut yang diberlakukan secara ilegal. Misi pelayaran kemanusiaan ini telah dimulai sejak 12 April lalu, di mana lebih dari 100 kapal dan perahu diberangkatkan dari berbagai pelabuhan di Spanyol, Italia, dan Tunisia. Diketahui, dari 30 kapal yang dapat dilacak, 9 di antaranya mengibarkan bendera Spanyol. Armada tersebut sempat bersandar di pelabuhan Syracuse, Sisilia pada hari Sabtu, sebelum akhirnya 56 kapal melanjutkan perjalanan dari pelabuhan Augusta, Italia pada hari berikutnya.


ADVERTISEMENT

Tujuan utama dari misi ini adalah untuk membuka koridor laut sipil dan mendistribusikan bantuan vital untuk rekonstruksi dan kelangsungan hidup warga Gaza. Kargo bantuan tersebut mencakup pasokan makanan, susu bayi, perlengkapan medis, bahan kebersihan, serta alat-alat pendidikan. Namun, Front Populer melaporkan bahwa armada Israel mengerahkan pasukannya di sekitar Jalur Gaza dan menutup akses pelabuhan laut secara total guna mencegah kapal pemecah blokade tersebut mencapai pantai Gaza.


Tindakan intersepsi yang disebut sebagai "aksi pembajakan laut" oleh Front Populer ini berujung pada penahanan puluhan relawan kemanusiaan. Berdasarkan pemutakhiran data pada Kamis, 30 April 2026, sebanyak 10 warga negara Malaysia dari inisiatif Sumud Nusantara resmi ditahan oleh rezim Israel. Mereka adalah Zainal (Arkham III), Hanafi, Hazwan, Norhelmi, dan Musa Al-Nuwayri (keempatnya di kapal Bianca BCN), Osman dan Dr. Jihan (Eros 1), Shamsir (Esplai II), Redzal (Freia), serta Muhsin (Marea). Di platform X, Global Sumud Flotilla juga mengonfirmasi bahwa 20 warga negara Turki turut ditahan di atas kapal mereka saat berada di perairan internasional.


Tindakan sepihak ini memicu reaksi keras dari Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese. Ia secara tegas mengutuk serangan terhadap kapal-kapal "Armada Keteguhan" tersebut. "Bagaimana Israel diizinkan untuk menyerang dan merebut kapal-kapal di wilayah itu?" tanyanya retoris. Albanese menekankan bahwa insiden di lepas pantai Yunani ini seharusnya menimbulkan "guncangan" besar di seluruh Eropa. Sebagai bentuk perlawanan sipil, warga Gaza didorong untuk menerangi pantai dengan obor pada malam hari untuk menyambut armada sekaligus mengekspresikan kemarahan mereka.


Hingga saat ini, tekanan diplomatik terus meningkat dari pemerintah Malaysia, Turki, dan berbagai organisasi internasional yang mendesak pembebasan segera bagi para relawan yang ditahan di perairan internasional. Meskipun dihadang secara militer, Global Sumud Flotilla telah berhasil memusatkan kembali perhatian dunia pada urgensi pengakhiran blokade ilegal di Jalur Gaza. Semangat "Sumud" atau keteguhan ini kini menjadi simbol perlawanan sipil global yang tidak akan berhenti hingga bantuan kemanusiaan dapat mengalir tanpa hambatan ke tangan mereka yang membutuhkan.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel
TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!