WASHINGTON - Jagat media sosial kembali diguncang kabar yang bikin elus dada. Laporan dari harian Lebanon, Al Akhbar, yang kemudian dikutip Press TV dan CGTN, menyebutkan kalau Presiden AS Donald Trump baru saja melakukan "sulap" keuangan tingkat dewa. Tidak tanggung-tanggung, dana bantuan kemanusiaan untuk Gaza sebesar 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp263,5 triliun dikabarkan "belok kiri" ke arah Israel.
Alasannya? Katanya sih buat modal eskalasi serangan ke Iran yang sudah dimulai sejak akhir Februari lalu. Luar biasa, ya. Dana yang harusnya jadi semen dan bata untuk rumah warga Gaza, malah diklaim jadi amunisi di tempat lain
Yang lebih unik lagi, nama Nickolay Mladenov ikut dibawa-bawa dalam drama ini. Katanya, beliau yang menjabat di "Dewan Perdamaian" bentukan AS sudah mengetok palu kalau dana itu habis total. Habis bis! Padahal, dana raksasa hasil patungan di Konferensi Davos Januari lalu itu rencananya buat bantu 350 ribu keluarga di Gaza.
Bayangkan, ratusan ribu keluarga yang berharap dapat hunian sementara, sekarang cuma bisa gigit jari kalau berita ini benar. Infrastruktur yang hancur ya tetap jadi puing. Sementara itu, pihak pengelola bantuan di Gaza kabarnya disuruh "tutup mulut". Klasik sekali, bukan?
Tentu saja, kabar ini memicu kemarahan publik dunia. Transparansi internasional mendadak jadi barang langka yang lebih sulit dicari daripada kopi luwak asli di tengah gurun. Kalau benar dana kemanusiaan bisa dipindah tangan semudah transfer saldo e-wallet hanya karena ada konflik regional, maka istilah "bantuan internasional" mungkin perlu direvisi jadi "pinjaman yang bisa ditarik kapan saja"
Namun, tunggu dulu. Sebelum kita semua naik pitam, ada baiknya kita tarik napas dalam-dalam. Kabar ini pertama kali muncul dari kanal-kanal media yang memang dikenal "sangat bersemangat" mengkritik kebijakan AS. Ditambah lagi, sosok Mladenov sendiri sebenarnya sudah pensiun dari urusan ini sejak beberapa tahun lalu. Jadi, apakah ini fakta pahit atau sekadar "gorengan" politik biar suasana makin panas?
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari lembaga kemanusiaan PBB maupun Gedung Putih. Jadi, buat sobat MoslemToday, tetap pasang radar literasi yang tajam. Jangan sampai semangat membela kemanusiaan kita malah dimanfaatkan oleh berita yang keakuratannya masih setipis buih kopi
Sumber: Diolah dari klaim Al Akhbar, Press TV, CGTN (dengan catatan verifikasi ketat).
Tetap tenang, tetap kritis, dan jangan lupa ngopi
