Berita, Hukum

Tragedi Kereta Kelinci Terguling di Mojokerto Saat Halal Bihalal, 1 Tewas dan Puluhan Luka

Logo

Posted by: Asdarianto

28 March 2026 10:53 WIB

Tragedi Kereta Kelinci Terguling di Mojokerto Saat Halal Bihalal, 1 Tewas dan Puluhan Luka
Foto: Tragedi Kereta Kelinci Terguling di Mojokerto

Kecelakaan tragis terjadi di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, saat sebuah kereta kelinci yang mengangkut rombongan halal bihalal terguling di jalan menanjak.

Insiden ini menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, menambah daftar panjang kecelakaan kendaraan wisata modifikasi di Indonesia.

Peristiwa nahas tersebut terjadi di Jalan Dusun Jati, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, pada Sabtu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Kendaraan yang terlibat merupakan kereta kelinci yang dimodifikasi menyerupai “bus tayo”, yang biasa digunakan untuk mengangkut rombongan wisata jarak dekat.

Berdasarkan keterangan kepolisian, kecelakaan bermula saat kendaraan mencoba melewati tanjakan cukup terjal. Namun, kendaraan tidak kuat menanjak karena membawa muatan berlebih.

ADVERTISEMENT

Kasat Lantas Polres Mojokerto, AKP Yogie Pratama, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat kendaraan kehilangan tenaga dan akhirnya meluncur mundur dengan kecepatan tinggi.

“Kondisi tanjakan cukup terjal, kemungkinan karena beban berat sehingga kendaraan tidak kuat menanjak,” ujarnya.

Tidak adanya bekas pengereman di lokasi memperkuat dugaan bahwa sopir tidak mampu mengendalikan kendaraan saat mundur.

Kereta kelinci tersebut kemudian menghantam tiang listrik sebelum akhirnya terguling di badan jalan.

Kecelakaan ini mengakibatkan satu penumpang meninggal dunia, yakni Sulimah (47), warga Mojokerto. Ia dilaporkan tewas di lokasi setelah terlempar dari kendaraan akibat benturan keras.

Sementara itu, total penumpang yang berada di dalam kendaraan mencapai 21 orang, ditambah satu sopir. Sebagian besar korban mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Kasi Humas Polres Mojokerto, Iptu Suyanto, menyampaikan bahwa seluruh korban telah dievakuasi ke beberapa fasilitas kesehatan.

“Sebanyak 21 penumpang ada di dalam kendaraan, sopir mengalami luka ringan dan dirawat,” ujarnya.

Para korban dirawat di sejumlah tempat, termasuk rumah sakit dan puskesmas terdekat, guna mendapatkan penanganan medis intensif.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa para penumpang merupakan rombongan pekerja pabrik yang tengah melakukan kegiatan halal bihalal. Mereka menyewa kereta kelinci untuk perjalanan bersama sebagai bagian dari acara kebersamaan usai Lebaran.

Namun, perjalanan yang seharusnya menjadi momen silaturahmi berubah menjadi tragedi. Kendaraan yang digunakan ternyata merupakan kendaraan lama yang telah dimodifikasi untuk mengangkut banyak penumpang, tanpa standar keselamatan yang memadai.

Kereta kelinci atau odong-odong memang kerap digunakan untuk wisata lokal, tetapi sering kali tidak didesain untuk perjalanan di jalan umum dengan medan berat seperti tanjakan.

Kecelakaan ini kembali menyoroti persoalan keselamatan transportasi non-standar di Indonesia. Banyak kendaraan modifikasi yang beroperasi tanpa memenuhi spesifikasi teknis maupun uji kelayakan jalan.

Dalam kasus ini, polisi juga menyoroti faktor kelebihan muatan sebagai penyebab utama kecelakaan. Kendaraan yang seharusnya digunakan untuk jarak pendek dengan kapasitas terbatas justru dipaksakan mengangkut puluhan orang.

Selain itu, tidak adanya sistem pengereman yang optimal menjadi faktor yang memperparah situasi saat kendaraan kehilangan kendali di tanjakan.

Tragedi kereta kelinci bukanlah kejadian pertama di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan serupa kerap terjadi di berbagai daerah, mulai dari tergelincir hingga terperosok ke selokan.

Sebagian besar kasus memiliki pola yang sama, yakni kendaraan tidak kuat menanjak, kelebihan muatan, serta minimnya standar keselamatan.

Hal ini menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap operasional kendaraan wisata modifikasi, terutama yang digunakan di jalan umum.

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tersebut, termasuk memeriksa kondisi kendaraan dan kelayakan operasionalnya.

Selain itu, evaluasi terhadap penggunaan kereta kelinci di jalan raya menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperketat regulasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk lebih selektif dalam memilih moda transportasi, terutama untuk kegiatan rombongan.

Kecelakaan kereta kelinci di Mojokerto menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan tidak boleh diabaikan, terutama dalam transportasi massal meski bersifat rekreasi.

Momen kebersamaan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi duka mendalam. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan kesadaran bersama, diharapkan tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!