JAKARTA- Transformasi digital dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini terus diperkuat. Salah satunya terlihat adalah sistem distribusi konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah.
Saat ini system tersebut memakai teknologi berbasis web untuk memastikan ketertiban, akurasi, dan transparansi layanan.
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi 2026, Indri Hapsari, mengungkapkan pengelolaan konsumsi kini terintegrasi dengan sistem Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Haji dan Umrah melalui faturoh digital berbasis web.
Menurutnya, sistem ini memungkinkan pengawasan distribusi dilakukan secara langsung oleh petugas, sehingga potensi kesalahan dapat ditekan secara signifikan.
“Dengan memanfaatkan bantuan dari Pusdatin, pengawasan distribusi konsumsi bisa dilakukan secara real-time. Ini membantu memastikan setiap jemaah mendapatkan haknya sesuai ketentuan,” ujarnya dalam siaran pers Kemenhaj, Sabtu (25/4/2026).
Implementasi di lapangan juga menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya distribusi dilakukan secara manual, kini proses pengambilan konsumsi dilakukan oleh ketua rombongan atau ketua regu di masing-masing hotel dengan sistem pemindaian digital.
“Pengambilan konsumsi dilakukan oleh ketua rombongan atau ketua regu dengan menggunakan sistem scan. Jadi semua tercatat dan bisa dipantau,” kata Indri.
Indri menegaskan sebelum makanan didistribusikan, dilakukan uji kelayakan (meal test) untuk memastikan kualitas.
“Kita ada meal test ke Daker atau ke wisma untuk dicoba terlebih dahulu sebelum diberikan kepada jemaah, guna mengecek bahwa konsumsi yang diberikan sudah sesuai dengan ketentuan, baik dari sisi gramasi maupun kualitasnya,” katanya.
Ia juga menjelaskan waktu distribusi makanan bagi jemaah.
“Distribusi makanan dilakukan tiga kali sehari, pagi pukul 05.00–08.00 WAS, siang pukul 12.00–14.00 WAS, dan malam pukul 17.00–19.00 WAS,” ujar Indri.
Standar porsi makanan pun disusun secara rinci berdasarkan rekomendasi ahli gizi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan kalangan akademisi.
“Untuk konsumsi jemaah haji tahun ini ada penambahan sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan, asupan protein meningkat dari sebelumnya 75 gram menjadi 80 gram. Begitu juga dengan nasi, dari 150 gram menjadi 170 gram. Selain itu, jemaah juga mendapatkan buah, susu, dan puding yang bervariasi setiap hari serta air mineral 600 ml,” ungkapnya.
Selain itu, Jemaah diimbau untuk segera mengonsumsi makanan maksimal dua jam setelah diterima guna menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Untuk jemaah lanjut usia, konsumsi disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan melalui koordinasi dengan ketua kloter.
“Untuk konsumsi lansia, diberikan sesuai dengan permintaan dari ketua kloter, yang kemudian disampaikan kepada petugas konsumsi di hotel,” pungkasnya.
Penerapan faturoh digital ini , sambungnya tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat transparansi layanan.
Setiap distribusi tercatat secara sistematis, sehingga memudahkan pengawasan sekaligus evaluasi secara menyeluruh.
Langkah itu menjadi bagian dari reformasi layanan haji yang lebih modern dan akuntabel, seiring meningkatnya jumlah jemaah dan kompleksitas operasional di Tanah Suci.
Dengan dukungan teknologi dan sistem distribusi yang terintegrasi, layanan konsumsi di Madinah diharapkan berjalan lebih efektif, transparan, dan mampu mendukung kenyamanan jemaah dalam menjalankan ibadah secara khusyuk. *
