Jakarta - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) semestinya dipimpin oleh kalangan ulama karena organisasi tersebut merupakan wadah perjuangan para ulama. Pernyataan itu disampaikan Muhaimin di tengah sorotan terhadap dinamika kepemimpinan NU menjelang Muktamar NU 2026.
Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, menyampaikan pandangannya saat menghadiri acara halal bihalal Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026) malam. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa karakter dasar NU sebagai organisasi keulamaan harus tercermin dalam figur pemimpinnya.
“Ini kan organisasi ulama, ya. Ya harus ulama yang memimpin,” ujar Cak Imin.
Ia juga mengaku prihatin terhadap situasi kepemimpinan di tubuh NU yang dinilainya belum solid dan kurang produktif. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian bersama, terutama bagi para kader dan alumni PMII yang memiliki ikatan historis dengan NU.
“Kepemimpinan yang tidak solid, tidak produktif, nah ini harus menjadi keprihatinan kita semua,” kata dia.
Sebagai alumni PMII, Cak Imin mengaku merasa terpanggil untuk ikut memikirkan masa depan NU. Ia menilai organisasi tersebut merupakan tempat perjuangan yang sangat penting bagi kader-kader PMII, sehingga diperlukan diskusi dan langkah bersama demi kemajuan organisasi ke depan.
“Sebagai alumni PMII generasi yang pernah aktif, tentu merasa terpanggil untuk berpikir, kita cari diskusi yang penting untuk kemajuan NU ke depan,” ujarnya.
Muktamar NU 2026 sendiri direncanakan berlangsung pada Juli atau paling lambat Agustus 2026. Agenda utama dalam forum lima tahunan tersebut adalah pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), posisi yang saat ini dijabat oleh Yahya Cholil Staquf.
Pernyataan Cak Imin tersebut dinilai menambah dinamika menjelang muktamar, sekaligus mempertegas harapan sebagian kalangan agar NU tetap menjaga identitasnya sebagai organisasi ulama yang dipimpin oleh figur dengan kapasitas keagamaan kuat. *