Internasional

Thailand Menyusul Malaysia, Iran Buka Akses Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Indonesia?

Logo

Posted by: Asdarianto

28 March 2026 10:45 WIB

Thailand Menyusul Malaysia, Iran Buka Akses Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Indonesia?
Foto: Thailand Menyusul Malaysia, Iran Buka Akses Selat Hormuz: Bagaimana Nasib Indonesia?

Perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah membawa angin segar bagi sejumlah negara Asia Tenggara. Setelah Malaysia, kini Thailand mendapat sinyal positif dari Iran untuk melintasi Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak dunia yang sempat terganggu akibat konflik geopolitik. Namun di tengah kabar baik tersebut, posisi Indonesia masih menjadi tanda tanya besar.

Krisis Selat Hormuz yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu arus energi global. Iran memberlakukan pembatasan ketat terhadap kapal-kapal yang melintas sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Dampaknya, ratusan kapal tanker sempat tertahan, termasuk dari Indonesia.

Thailand menjadi negara terbaru yang berhasil menembus kebuntuan diplomatik dengan Iran. Pemerintah Negeri Gajah Putih memastikan bahwa kapal tankernya kini bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah melakukan koordinasi intensif.

Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari komunikasi langsung dengan pihak Iran.

ADVERTISEMENT

“Saya meminta agar kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman,” ujarnya.

Hasilnya, Iran memberikan izin dengan syarat adanya koordinasi resmi. Bahkan, satu kapal tanker milik perusahaan energi Thailand telah berhasil melintas sebagai bukti nyata keberhasilan diplomasi tersebut.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi Thailand yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.

Sebelum Thailand, Malaysia sudah lebih dulu mendapatkan izin serupa dari Iran. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin regional.

“Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia agar dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar.

Ia juga secara terbuka mengapresiasi keputusan Iran yang memberikan akses tersebut. Malaysia sendiri termasuk negara yang sangat terdampak karena sekitar separuh pasokan energinya bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Keberhasilan Malaysia dan Thailand menunjukkan bahwa pendekatan diplomatik menjadi kunci utama dalam membuka akses di tengah situasi konflik.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun aksesnya dibatasi hanya untuk negara-negara yang dianggap “bersahabat” atau tidak terlibat dalam konflik.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut kapal dari negara tertentu tetap bisa melintas selama berkoordinasi dengan otoritas Iran. Negara-negara seperti China, India, Rusia, Pakistan, dan Irak termasuk yang lebih dahulu mendapatkan akses.

Kebijakan ini membuat jalur distribusi energi global berubah drastis. Data menunjukkan jumlah kapal yang melintas turun signifikan dibandingkan kondisi normal, yang biasanya mencapai ratusan kapal per hari.

Selain itu, beberapa kapal bahkan harus mengambil rute alternatif atau membayar biaya tertentu untuk mendapatkan izin melintas.

Di tengah perkembangan positif negara tetangga, Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Hingga kini, sejumlah kapal tanker Indonesia dilaporkan masih tertahan dan belum mendapatkan izin untuk melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah melalui jalur diplomasi terus melakukan komunikasi dengan Iran untuk membuka akses tersebut. Namun, hingga saat ini hasilnya belum secepat Malaysia dan Thailand.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan energi nasional, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, pihak terkait memastikan bahwa pasokan energi dalam negeri masih aman karena adanya diversifikasi sumber dan pengelolaan cadangan energi.

Krisis Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bagi banyak negara, termasuk Indonesia, tentang pentingnya ketahanan energi dan diversifikasi sumber pasokan.

Konflik ini tidak hanya berdampak pada distribusi minyak, tetapi juga memicu kenaikan harga energi global dan mengganggu stabilitas ekonomi internasional.

Ke depan, negara-negara diperkirakan akan semakin aktif melakukan diplomasi energi serta mempercepat pengembangan sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jalur-jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Keberhasilan Thailand dan Malaysia menembus blokade Selat Hormuz menjadi bukti bahwa diplomasi efektif mampu membuka akses di tengah konflik global. Namun, bagi Indonesia, tantangan masih belum usai.

Dengan situasi yang terus berkembang, langkah cepat dan strategi tepat menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam menjaga keamanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik dunia.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!