21 April 2026 — Di tengah gencatan senjata yang akan berakhir besok, 22 April 2026, dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga hari ini masih buntu, evaluasi atas jalannya perang semakin relevan untuk dikaji ulang. Lebih dari enam pekan sejak pecahnya konflik bersenjata antara Israel dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dinilai gagal menerjemahkan keunggulan militer menjadi kemenangan strategis yang nyata. Para analis dari berbagai lembaga keamanan internasional menyebut perang ini sebagai salah satu kegagalan kebijakan luar negeri paling besar dalam sejarah modern Israel.
Perang ini sejatinya dirancang Netanyahu sebagai "penentu sejarah" — serangan habis-habisan yang sekaligus akan menghapus ancaman nuklir Iran, melucuti Hamas di Gaza, dan menetralisasi Hizbullah di Lebanon. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda dari janji yang disampaikan kepada publik Israel.2
Iran Bertahan, Selat Hormuz Tetap di Tangannya
Meski menghadapi serangan udara besar-besaran dari Israel dan Amerika Serikat — termasuk pengeboman fasilitas nuklir Natanz pada Maret 2026 — Iran tetap berdiri tegak. Persediaan nuklir Teheran dilaporkan masih ada, kemampuan misilnya telah terbukti dalam pertempuran nyata, dan yang paling signifikan secara geopolitik: Iran masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi urat nadi sekitar seperlima aliran minyak dunia.
Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies Israel, dalam wawancara dengan CNN International (15 April 2026) menegaskan bahwa perang ini adalah kegagalan strategis bagi Netanyahu. "Netanyahu tidak menang. Perang ini adalah kegagalan strategis. Ada kesenjangan antara apa yang dia janjikan di awal kampanye dan kondisi akhir yang kita alami," ujarnya.
Dalam analisis terpisah yang dikutip Reuters (14 April 2026), Citrinowicz kembali menyoroti konsekuensi jangka panjang dari posisi Iran di Selat Hormuz. "Anda tidak bisa memasukkan jin kembali ke dalam botol," katanya. Ia menambahkan bahwa Iran kini merasa semakin kuat dan berani, serta menginginkan jauh lebih banyak dari yang pernah ditawarkan dalam perundingan-perundingan sebelumnya.
Hamas Belum Dilucuti, Hizbullah Masih Menembakkan Roket
Di front Gaza, Hamas hingga kini masih belum dilucuti. Israel menegaskan tidak akan menarik pasukan sebelum pelucutan senjata Hamas tuntas — namun kondisi di lapangan menunjukkan kebuntuan yang berkepanjangan. Sementara itu, Hizbullah yang didukung Iran terus melancarkan roket ke wilayah utara Israel dari Lebanon, membuktikan bahwa Perang Iran tidak berhasil memutus rantai "Poros Perlawanan" yang selama ini menjadi ancaman utama bagi keamanan Israel.
Analis Foreign Policy Marc Lynch menyebut strategi Israel pasca-7 Oktober 2023 telah gagal secara menyeluruh. Meski musuh-musuhnya berhasil dilemahkan, tidak satu pun yang berhasil dieliminasi — tidak Hamas, tidak Hizbullah, dan tidak Iran.
Dukungan Publik Merosot Drastis
Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi tekanan politik yang semakin berat. Survei Agam Labs dari Universitas Ibrani Jerusalem yang dirilis 11 April 2026 mencatat hanya 10 persen warga Israel menilai perang ini berhasil, sementara tingkat dukungan terhadap Netanyahu turun dari 40 persen di awal konflik menjadi 34 persen. Lebih dari separuh responden menilai kepemimpinannya buruk atau sangat buruk.
Korban Besar, Tujuan Tidak Tercapai
Kampanye militer yang hampir sepenuhnya mengandalkan kekuatan udara ini memang menunjukkan kehebatan taktis, namun gagal menghasilkan tujuan strategis yang koheren dan berkelanjutan. Sementara itu, negara-negara Teluk Arab disebut para analis sebagai pihak yang paling dirugikan — kini harus berhadapan dengan Iran yang justru semakin keras dan penuh amarah.
Dengan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir 22 April 2026 dan negosiasi AS–Iran masih buntu, kawasan Timur Tengah kembali berdiri di tepi jurang konflik baru yang berpotensi lebih destruktif dari sebelumnya.
Sumber: Reuters, CNBC Indonesia, Foreign Policy, The Conversation, UN Security Council Report
