Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca perang antara Iran dan Amerika Serikat mulai memunculkan pergeseran besar dalam cara negara-negara Teluk memandang keamanan regional. Salah satu isu yang kini menjadi sorotan adalah keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya dianggap sebagai aset strategis, kini justru dipertanyakan relevansinya.
Seorang pakar politik terkemuka dari UEA, Abdulkhaleq Abdulla, secara terbuka menyatakan bahwa pangkalan militer AS di negaranya tidak lagi memberikan manfaat signifikan. Bahkan, ia menyebut keberadaan pangkalan tersebut lebih sebagai beban daripada keuntungan strategis.
Abdulkhaleq Abdulla, akademisi sekaligus pengamat yang memiliki kedekatan dengan lingkaran elite UEA, menegaskan bahwa sudah saatnya negaranya mengevaluasi hubungan militer dengan Amerika Serikat. “Sudah waktunya memikirkan penutupan pangkalan AS… ini menjadi beban, bukan aset strategis,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan signifikan dalam perspektif keamanan UEA, yang selama puluhan tahun menjadi sekutu utama Washington di kawasan Teluk.
Perang Iran yang berlangsung pada 2026 menjadi faktor utama yang memicu perubahan pandangan tersebut. Dalam konflik itu, Iran dilaporkan menargetkan fasilitas yang terkait dengan militer AS di berbagai negara Teluk, termasuk UEA.
Serangan rudal dan drone yang diarahkan ke lokasi-lokasi yang memiliki keterkaitan dengan AS membuat negara-negara tuan rumah menjadi ikut terseret dalam konflik yang sebenarnya bukan mereka mulai.
Dalam konteks ini, pangkalan militer AS justru dianggap meningkatkan risiko keamanan, bukan mengurangi ancaman.
Seorang laporan berita menyebut bahwa keberadaan pangkalan tersebut bahkan menjadi “alibi” bagi Iran untuk menyerang wilayah UEA.
Abdulla juga menyoroti bahwa UEA telah menunjukkan kemampuan militernya dalam menghadapi serangan tanpa bergantung sepenuhnya pada pasukan asing.“UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk mempertahankan diri,” katanya.
Selama konflik, sistem pertahanan udara UEA berhasil mencegat sebagian besar serangan yang datang, termasuk ratusan rudal dan ribuan drone.
Keberhasilan ini dianggap sebagai bukti bahwa negara tersebut telah memiliki kapasitas pertahanan mandiri yang cukup kuat.
Pernyataan tersebut juga mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, di mana negara-negara Teluk mulai mengurangi ketergantungan pada kekuatan militer asing.
Alih-alih mengandalkan kehadiran pasukan luar, UEA dinilai lebih memilih memperkuat kemampuan militernya sendiri melalui teknologi dan pembelian senjata canggih. “Yang dibutuhkan adalah senjata terbaik, bukan pangkalan asing,” tegas Abdulla.
Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dan tidak membawa risiko geopolitik sebesar keberadaan pangkalan militer asing.
Keberadaan pangkalan militer AS di wilayah Teluk selama ini memang bertujuan untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kepentingan strategis, termasuk jalur energi global.
Namun, dalam situasi konflik terbuka seperti perang Iran, pangkalan tersebut justru menjadi target utama serangan.
Bahkan, Iran secara terbuka menyatakan bahwa semua fasilitas militer AS di kawasan akan dianggap sebagai target sah dalam konflik.
Hal ini menempatkan negara-negara tuan rumah dalam posisi rentan, karena mereka berpotensi menjadi medan pertempuran tanpa keterlibatan langsung dalam konflik.
Meski demikian, tidak semua pihak di kawasan sepakat dengan pandangan Abdulla. Sebagian analis menilai bahwa kerja sama militer dengan AS masih penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Hubungan antara UEA dan AS juga tidak hanya terbatas pada militer, tetapi mencakup sektor ekonomi, teknologi, dan investasi.
Beberapa pengamat menilai bahwa meski ada kritik, perubahan kebijakan secara drastis seperti penutupan pangkalan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Jika wacana ini berkembang menjadi kebijakan nyata, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga secara global.
Amerika Serikat selama ini menjadikan kawasan Teluk sebagai salah satu basis utama operasi militernya. Penarikan atau pengurangan kehadiran di wilayah ini akan mengubah keseimbangan kekuatan global.
Di sisi lain, negara-negara seperti China dan Rusia berpotensi memanfaatkan situasi ini untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan.
Pernyataan bahwa pangkalan militer AS di UEA kini menjadi “beban, bukan aset” menandai perubahan besar dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.
Perang Iran telah membuka mata banyak pihak bahwa keberadaan militer asing tidak selalu menjamin keamanan, bahkan bisa menjadi sumber risiko baru.
Meski masih dalam tahap wacana, diskusi ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mulai mencari model keamanan baru—yang lebih mandiri, fleksibel, dan tidak terlalu bergantung pada kekuatan eksternal.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin peta aliansi global akan mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
