Moslemtoday.com : Upaya baru untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran menghadapi hambatan setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana keberangkatan utusannya ke Pakistan. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru aktif melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Pakistan guna menyampaikan posisi Teheran terkait gencatan senjata dan akhir perang.
Dalam perkembangan terbaru pada Sabtu (25/4/2026), Araghchi menggelar serangkaian pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir di Islamabad. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar global.
Namun, peluang dialog langsung antara Washington dan Teheran tampak meredup setelah Trump memerintahkan timnya untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Pakistan. Dalam pernyataannya kepada media AS, Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan perjalanan panjang hanya untuk pembicaraan yang dianggap tidak produktif.
“Saya sudah mengatakan kepada tim saya, tidak perlu melakukan penerbangan 18 jam untuk pembicaraan yang tidak menghasilkan apa-apa. Kami memegang semua kartu. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja,” ujar Trump.
Kebuntuan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Iran dilaporkan telah menutup sebagian besar Selat Hormuz—jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia—sementara Amerika Serikat terus memblokir ekspor minyak Iran. Situasi ini mendorong lonjakan harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global.
Konflik tersebut bermula dari serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel, pangkalan militer AS, serta sejumlah negara Teluk.
Dalam pernyataan resminya, Araghchi menegaskan bahwa Iran memiliki prinsip yang tidak bisa ditawar dalam proses negosiasi. Ia menekankan pentingnya penghentian total perang yang disebutnya sebagai “perang yang dipaksakan terhadap Iran”.
Sumber diplomatik Iran di Islamabad menyebutkan bahwa Teheran tidak akan menerima tuntutan maksimal dari pihak AS. Sikap ini menunjukkan bahwa perbedaan mendasar masih menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Iran masih memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan, asalkan bersedia menghentikan program senjata nuklirnya secara transparan dan dapat diverifikasi.
Di sisi lain, Gedung Putih mengindikasikan adanya sedikit kemajuan dalam beberapa hari terakhir. Juru bicara Karoline Leavitt menyatakan harapan bahwa perkembangan positif dapat terus berlanjut, bahkan Wakil Presiden JD Vance disebut siap melakukan perjalanan ke Pakistan jika diperlukan.
Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan mengenai format maupun pihak yang akan terlibat langsung dalam negosiasi. Iran sendiri melalui juru bicaranya menegaskan tidak memiliki rencana untuk bertemu langsung dengan delegasi AS, dan memilih menyampaikan sikapnya melalui Pakistan sebagai mediator.
Dengan kondisi yang masih penuh ketidakpastian, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik tampaknya masih akan menghadapi jalan panjang, sementara dampaknya terus dirasakan oleh ekonomi global dan stabilitas kawasan.
Sumber : Al Jazeera