Artikel, Berita, Ekonomi

Sinyal Kenaikan Harga Pertamax Menguat, Bahlil: Tinggal Tunggu Waktu

Logo

Posted by: Asdarianto

17 April 2026 15:42 WIB

Sinyal Kenaikan Harga Pertamax Menguat, Bahlil: Tinggal Tunggu Waktu
Foto: Bahlil Tinggal Tunggu Waktu

Pemerintah memberi sinyal kuat akan segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax Series.


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pembahasan penyesuaian harga sudah hampir rampung dan kini hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya.


ADVERTISEMENT

Dalam keterangannya di Jakarta, Bahlil menyebut proses diskusi antara pemerintah, Pertamina, dan badan usaha swasta sudah berada di tahap akhir.


“Tinggal kita lihat kapan itu dilakukan penyesuaian. Feeling saya, atas dasar rapat-rapat kami dengan Pertamina maupun badan usaha swasta, sudah hampir selesai,” ujar Bahlil.


Pernyataan ini sekaligus mempertegas arah kebijakan pemerintah yang mulai membuka ruang kenaikan harga BBM nonsubsidi seiring tekanan global yang semakin meningkat.


Bahlil menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, bukanlah keputusan sepihak, melainkan mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah. Dalam hal ini, harga BBM nonsubsidi mengacu pada mekanisme pasar sebagaimana diatur dalam kebijakan Kementerian ESDM.


“BBM nonsubsidi itu kan berdasarkan harga pasar,” tegas Bahlil. Artinya, fluktuasi harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menentukan harga jual di dalam negeri. Ketika harga minyak global naik, maka harga BBM nonsubsidi juga berpotensi ikut terkerek.

Kebijakan ini berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang masih dilindungi pemerintah agar tetap terjangkau bagi masyarakat luas.


Salah satu faktor utama yang mendorong rencana kenaikan harga Pertamax adalah lonjakan harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 90–100 dolar AS per barel.

Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan awal tahun 2026 yang berada di kisaran 60 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.


Kondisi tersebut membuat biaya impor energi meningkat, sehingga badan usaha penyalur BBM harus melakukan penyesuaian harga untuk menjaga keberlanjutan bisnis.


Menariknya, meskipun harga minyak dunia sudah naik, harga BBM nonsubsidi di dalam negeri masih ditahan sejak awal April 2026. Hal ini menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek.


Di tengah wacana kenaikan Pertamax, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami perubahan hingga akhir 2026.


Bahlil menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden demi menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.


“Kami sudah bersepakat bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” katanya.

Langkah ini menjadi penyeimbang kebijakan energi nasional, di mana pemerintah tetap melindungi kelompok masyarakat rentan, sementara mekanisme pasar diberlakukan pada BBM nonsubsidi.


Sinyal kenaikan harga Pertamax juga menjadi pesan penting bagi pelaku pasar dan masyarakat. Dengan pembahasan yang hampir selesai, peluang kenaikan harga dalam waktu dekat semakin terbuka lebar.


Meski belum ada tanggal pasti, pernyataan Bahlil menunjukkan bahwa kebijakan ini tinggal menunggu momentum yang tepat. Pemerintah kemungkinan akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk stabilitas ekonomi domestik, inflasi, dan kondisi global sebelum resmi menaikkan harga.


Di sisi lain, pelaku industri dan konsumen diharapkan mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan biaya operasional, terutama bagi sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada BBM nonsubsidi.


Rencana kenaikan harga Pertamax mencerminkan dilema klasik dalam kebijakan energi: menjaga stabilitas harga di dalam negeri atau mengikuti realitas pasar global.


Pemerintah tampaknya memilih jalan tengah dengan tetap mempertahankan harga BBM subsidi, sambil menyesuaikan BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar.


Ke depan, transparansi kebijakan dan komunikasi yang jelas kepada publik menjadi kunci agar kebijakan ini dapat diterima dengan baik. Tanpa itu, potensi gejolak sosial dan ekonomi bisa saja muncul.


Yang pasti, sinyal sudah diberikan. Kini publik hanya tinggal menunggu kapan keputusan kenaikan harga Pertamax benar-benar diumumkan secara resmi.


Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!