Peneliti forensik digital Rismon Sianipar menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, terkait polemik tudingan ijazah palsu yang sempat mencuat. Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam rangka pengajuan penyelesaian perkara melalui mekanisme keadilan restoratif (restorative justice) atas kasus yang menjeratnya.
Rismon diketahui mendatangi kediaman Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/3/2026) sore. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan klarifikasi mengenai hasil penelitiannya sekaligus meminta maaf secara langsung atas polemik yang timbul akibat publikasi sebelumnya.
Presiden Jokowi membenarkan kedatangan Rismon ke rumahnya. Ia menyatakan telah menerima permohonan maaf yang disampaikan oleh peneliti forensik digital tersebut.
“Ya, kemarin telah datang Pak Rismon Sianipar ke sini, ke kediaman saya. Dan saya menerima permohonan maaf Pak Rismon,” ujar Jokowi di Solo, Jumat (13/3/2026).
Terkait pengajuan penyelesaian perkara melalui restorative justice, Jokowi menyerahkan sepenuhnya proses tersebut kepada tim penasihat hukumnya. Ia menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai penghentian perkara berada di tangan penyidik kepolisian.
Sebelumnya, Rismon dijerat Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 35 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang berkaitan dengan dugaan tindakan menghapus, menyembunyikan, atau memanipulasi dokumen elektronik.
Sehari setelah bertemu Jokowi, Rismon melanjutkan kunjungannya ke Kantor Wakil Presiden untuk menemui Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, pada Jumat (13/3/2026) pagi. Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup selama sekitar 50 menit.
Usai pertemuan, Gibran terlihat mengantar Rismon keluar dari kantor wakil presiden sambil berbincang singkat. Suasana keduanya tampak hangat dan akrab. Bahkan, Gibran sempat merangkul Rismon sambil menyatakan bahwa persoalan tersebut telah selesai.
“Pokoknya kita ini saudaraan, sudah enggak ada apa-apa lagi,” ujar Gibran kepada Rismon.
Dalam kesempatan itu, Rismon juga menerima bingkisan Lebaran dari Gibran sebelum meninggalkan lokasi.
Dalam keterangannya kepada media, Rismon menyampaikan hasil temuan terbaru dari penelitiannya terkait ijazah Jokowi. Ia menyatakan bahwa berdasarkan kajian terbaru yang dilakukan secara mendalam selama dua bulan terakhir, ijazah Jokowi terbukti asli.
“Iya, asli. Dengan kajian saya, makanya saya bilang truth hurts, kebenaran itu menyakitkan,” kata Rismon.
Ia menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya yang menyimpulkan sebaliknya merupakan kajian yang belum lengkap. Oleh karena itu, ia berencana menuliskan koreksi atas penelitiannya tersebut dalam sebuah buku.
Buku tersebut, menurut Rismon, akan memuat pembaruan metodologi, data yang lebih lengkap, serta analisis yang lebih objektif terkait polemik yang sempat berkembang di publik.
Ia berharap buku tersebut dapat diterbitkan pada tahun ini sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah sekaligus klarifikasi atas kesimpulan sebelumnya yang dinilai keliru.
Meski mengaku mendapat banyak kritik dan hujatan setelah menyampaikan temuan terbaru tersebut, Rismon menegaskan tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, mengungkapkan kebenaran merupakan hal yang paling penting, meskipun berisiko menghadapi tekanan dari berbagai pihak.
