Berita, Internasional

Reza Pahlavi Tawarkan Diri Jadi Pemimpin Transisi Iran, Siap Bermesra dengan Israel!

Logo

Posted by: Deli Hermanto

03 April 2026 07:23 WIB

Reza Pahlavi Tawarkan Diri Jadi Pemimpin Transisi Iran, Siap Bermesra dengan Israel!
Foto: Iran's Prince Reza Pahlavi 60 Minutes. (CBS News.com)

Putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, menyatakan kesiapan dirinya untuk menjadi pemimpin transisi menuju demokrasi di Iran. Pernyataan ini mencuat di tengah situasi politik yang memanas, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Reza Pahlavi, putra dari mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi, telah hidup di luar negeri sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran. Meski telah hampir lima dekade di pengasingan, Pahlavi mengaku terus memikirkan masa depan negaranya.

“Iran selalu ada dalam pikiran saya setiap hari,” ujar Pahlavi dalam wawancara dengan program 60 Minutes CBS News, dikutip Jumat, (3/4/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam visinya, Pahlavi menawarkan empat prinsip utama untuk membangun Iran baru. Pertama, menjaga keutuhan wilayah Iran. Kedua, pemisahan tegas antara agama dan negara sebagai prasyarat demokrasi. Ketiga, kesetaraan seluruh warga negara di hadapan hukum serta jaminan kebebasan individu. Keempat, penerapan proses demokrasi yang memungkinkan rakyat menentukan sistem pemerintahan masa depan.

Selain itu, Pahlavi juga mengisyaratkan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Iran, termasuk membuka peluang perdamaian dengan Israel serta mendukung penghentian total program senjata nuklir Iran.

Pahlavi mengaku telah menjalin komunikasi dengan pemerintahan Donald Trump dan sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Namun, Trump sebelumnya menyatakan keraguan apakah rakyat Iran akan menerima kepemimpinan Pahlavi.

Menanggapi hal tersebut, Pahlavi menegaskan dirinya tidak mengharapkan dukungan resmi dari pemerintah asing. Ia mengklaim jutaan warga Iran, baik di dalam maupun luar negeri, menginginkan dirinya berperan sebagai jembatan menuju transisi demokrasi, bukan sebagai kandidat pemimpin permanen.

“Saya tidak mencalonkan diri untuk jabatan. Peran saya adalah menjadi jembatan menuju masa depan yang ditentukan oleh rakyat Iran,” ujarnya.

Pahlavi, diketahui saat berusia 18 tahun tengah menjalani pelatihan sebagai pilot tempur di Amerika Serikat saat revolusi 1979 terjadi. Ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, meninggalkan Iran di tengah gejolak politik dan wafat setahun kemudian.

Menurut Pahlavi, keputusan sang ayah meninggalkan Iran dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah. “Seorang raja tidak membangun tahtanya di atas darah rakyatnya,” kata Pahlavi mengenang pesan ayahnya.

Pasca kejatuhan monarki, kekuasaan di Iran diambil alih oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini yang memimpin revolusi dan membentuk rezim Republik Islam yang bertahan hingga kini.

Pada Januari lalu, dari pengasingannya, Pahlavi menyerukan kepada rakyat Iran untuk terus melakukan aksi protes terhadap pemerintah. Aksi tersebut diikuti ratusan ribu warga, namun dilaporkan mendapat respons keras dari aparat yang menewaskan puluhan ribu orang.

Dengan situasi politik yang terus bergejolak, pernyataan Pahlavi dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah masa depan Iran, terutama jika terjadi perubahan kekuasaan secara signifikan di negara tersebut. *

Sumber : https://www.cbsnews.com/news/iran-reza-palhavi-democracy-hopes-60-minutes/

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel
TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!