Internasional

Krisis Mental di Militer Israel Memburuk, Kasus Bunuh Diri Tentara Terus Meningkat Sejak Perang Gaza

Logo

Posted by: Asdarianto

26 April 2026 19:53 WIB

Krisis Mental di Militer Israel Memburuk, Kasus Bunuh Diri Tentara Terus Meningkat Sejak Perang Gaza
Foto: Krisis Mental di Militer Israel Memburuk

Lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel menjadi sorotan serius dunia internasional. Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, terutama sejak konflik berkepanjangan di Gaza yang dimulai pada 2023.


Tekanan psikologis, trauma perang, hingga lemahnya sistem dukungan mental disebut menjadi faktor utama di balik meningkatnya angka tersebut.


ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan investigasi media Israel, setidaknya delapan tentara dan petugas polisi Israel meninggal akibat bunuh diri hanya dalam bulan April 2026. Secara keseluruhan, sejak awal tahun ini tercatat sedikitnya 10 tentara aktif mengakhiri hidup mereka.


Angka ini memperkuat tren peningkatan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.


Sejak pecahnya konflik Gaza pada Oktober 2023, jumlah kasus bunuh diri di kalangan militer Israel terus meningkat.


Pada akhir 2023 tercatat tujuh kasus, lalu melonjak menjadi 21 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 22 kasus pada 2025 angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir.


Kondisi ini menunjukkan adanya krisis kesehatan mental yang semakin serius di tubuh militer.

Selain tentara aktif, kasus bunuh diri juga terjadi pada mantan prajurit.


Setidaknya 15 mantan tentara dilaporkan meninggal karena bunuh diri setelah menyelesaikan masa tugas, dengan beberapa kasus tambahan terjadi dalam beberapa bulan terakhir.


Para analis menilai bahwa paparan langsung terhadap konflik bersenjata menjadi pemicu utama tekanan mental yang dialami tentara. Pengalaman menyaksikan kekerasan ekstrem di medan perang meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.


Seorang psikolog klinis Israel, Ronen Sidi, menjelaskan bahwa tentara menghadapi dua jenis tekanan berat: ketakutan akan kematian dan beban moral akibat tindakan selama perang.


“Mereka tidak hanya takut mati, tetapi juga harus hidup dengan apa yang mereka lakukan di medan perang,” ujarnya dalam analisis terkait kondisi mental prajurit.


Fenomena ini dikenal sebagai “moral injury” atau luka moral, yang sering kali lebih sulit disembuhkan dibanding trauma fisik.


Selain bunuh diri, gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) juga meningkat drastis di kalangan tentara Israel.


Data menunjukkan bahwa jumlah kasus PTSD meningkat hingga 40 persen sejak 2023.

Bahkan, laporan lain menyebutkan bahwa sebagian besar tentara yang terluka dalam konflik mengalami gangguan mental serius.


Kondisi ini mencerminkan tekanan luar biasa yang dialami prajurit, baik selama bertugas maupun setelah kembali dari medan perang.


Selain faktor trauma, lemahnya sistem dukungan kesehatan mental juga menjadi sorotan. Beberapa laporan menyebutkan bahwa program dekompresi psikologis bagi tentara cadangan telah dikurangi atau bahkan dihentikan.


Tidak hanya itu, ada pula laporan mengenai berkurangnya tenaga profesional kesehatan mental di lapangan.


Dalam beberapa kasus, tentara yang mengalami gangguan psikologis tetap dikerahkan tanpa evaluasi yang memadai.


Kondisi ini memperburuk situasi dan meningkatkan risiko gangguan mental yang tidak tertangani.


Tekanan internal dalam struktur militer juga menjadi faktor tambahan. Beberapa sumber menyebut adanya dorongan dari atasan agar tentara tetap bertugas meski mengalami kelelahan mental.


Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pemulihan psikologis. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dapat mempercepat munculnya depresi dan keputusasaan.


Krisis kesehatan mental ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada institusi militer secara keseluruhan.


Tingginya angka bunuh diri dapat memengaruhi moral pasukan, efektivitas operasional, hingga kepercayaan publik.


Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, bahkan mengakui adanya krisis mental yang memburuk di kalangan tentara. Ia meminta para komandan untuk lebih waspada terhadap kondisi psikologis prajurit.

“Kita harus memastikan setiap tentara mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.


Para pengamat menilai bahwa krisis ini membutuhkan penanganan serius dan sistematis. Tidak cukup hanya dengan meningkatkan layanan kesehatan mental, tetapi juga perlu perubahan dalam pendekatan operasional dan budaya militer.

Tanpa perbaikan menyeluruh, angka bunuh diri dikhawatirkan akan terus meningkat, terutama jika konflik berkepanjangan masih berlangsung.

Penutup

Lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel menjadi cerminan nyata dari dampak psikologis perang yang berkepanjangan. Di balik kekuatan militer, terdapat beban mental yang tidak terlihat namun sangat nyata.

Dengan meningkatnya kasus PTSD dan lemahnya sistem dukungan, krisis ini tidak bisa lagi diabaikan. Diperlukan langkah konkret untuk melindungi kesehatan mental para prajurit, baik selama bertugas maupun setelah kembali dari medan perang.

Jika tidak, angka bunuh diri yang terus meningkat hanya akan menjadi puncak gunung es dari masalah yang jauh lebih besar—krisis kemanusiaan di dalam tubuh militer itu sendiri.


Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!