Internasional

Iran Peringatkan Konsekuensi Berbahaya dari Provokasi AS di Selat Hormuz!

Logo

Posted by: Deli Hermanto

14 April 2026 17:15 WIB

Iran Peringatkan Konsekuensi Berbahaya dari Provokasi AS di Selat Hormuz!
Foto: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Teheran - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa tindakan provokatif Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz berpotensi menimbulkan konsekuensi berbahaya yang mengancam stabilitas regional hingga global. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.


Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Senin, Araghchi menegaskan bahwa langkah-langkah agresif Washington dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Ia menyoroti ancaman terbaru dari Presiden AS, Donald Trump, terkait rencana blokade laut terhadap Iran.

ADVERTISEMENT


Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya mengumumkan akan memberlakukan blokade di Laut Oman dan Laut Arab, tepatnya di sebelah timur Selat Hormuz. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 17.30 waktu Teheran dan mencakup seluruh lalu lintas kapal tanpa memandang bendera negara.


Menanggapi hal itu, Iran secara tegas menolak upaya yang dinilai sebagai intervensi ilegal terhadap wilayah kedaulatannya. Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa setiap ancaman terhadap pelabuhan negara tersebut akan memicu respons regional yang lebih luas. Pernyataan resmi menyebutkan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk Persia maupun Laut Oman yang akan aman jika pelabuhan Iran diserang.


Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari menegaskan bahwa keamanan di dua jalur laut strategis tersebut merupakan tanggung jawab bersama. Ia menekankan bahwa prinsip keamanan harus berlaku bagi semua pihak atau tidak sama sekali.


Dalam percakapan yang sama, Lavrov menyampaikan sikap tegas Moskow yang mengecam tindakan militer Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran. Ia juga mendesak Washington untuk menunjukkan komitmen serius dalam proses diplomasi guna memulihkan perdamaian dan stabilitas kawasan.


Kedua menteri sepakat bahwa dialog bilateral dan multilateral harus terus ditingkatkan, serta seluruh kapasitas diplomatik perlu dimanfaatkan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.


Iran sendiri berulang kali menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran damai. Namun, Teheran juga menyatakan akan mempertahankan hak-haknya secara tegas terhadap setiap bentuk tindakan militer asing yang dianggap melanggar hukum internasional.


Ketegangan ini berakar dari serangan udara yang terjadi pada 28 Februari, yang menurut Iran menewaskan sejumlah pejabat dan komandan seniornya. Sebagai respons, Iran melancarkan operasi militer bertajuk “True Promise 4” dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.


Selain itu, Iran juga sempat memblokir Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak lawan, sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jalur strategis tersebut.


Meski Amerika Serikat disebut telah menerima proposal gencatan senjata 10 poin dari Iran pada 8 April, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad pada 12 April gagal mencapai kesepakatan. Kegagalan tersebut dilaporkan disebabkan oleh tuntutan berlebihan dari pihak AS setelah lebih dari 20 jam negosiasi berlangsung.


Situasi ini menandai meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah, dengan Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial yang berpotensi memicu dampak global, khususnya terhadap stabilitas energi dunia.


Sumber : https://www.presstv.ir/Detail/2026/04/14/766812/Tehran-warns-of-dangerous-repercussions-from-US-provocations-in-Strait-of-Hormuz

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!