Alhamdulillah kita masih dikasih napas buat ngejalanin hari ini. Tapi jujur deh, pernah nggak sih lagi asyik rebahan, tiba-tiba buka IG story dan lihat circle pertemanan lagi nongkrong di kafe aesthetic? Atau lihat temen seangkatan udah ganti gadget boba terbaru, outfit liburan yang kece parah, sampai pamer healing ke luar negeri?
Tiba-tiba muncul perasaan cemas, takut dibilang kuper (kurang pergaulan), outdated, atau ngerasa tertinggal dari yang lain. Ujung-ujungnya, maksain ikut nongkrong walau dompet lagi nangis, atau nekat nyicil pakai paylater demi dapet validasi.
Kalau kamu sering ngerasa begini, welcome to the club, kamu lagi kena virus FOMO alias Fear of Missing Out. Virus kecemasan yang satu ini emang lagi subur-suburnya di era flexing (pamer) medsos. Bikin dompet tipis, dan kewarasan makin terkikis.
Nafsu Itu Kayak 'Black Hole'
Coba deh sadari satu hal: ngikutin tren itu nggak bakal ada garis finish-nya. Hari ini pamer iPhone seri belasan, tahun depan udah keluar lagi seri puluhan. Kalau kamu terus-terusan menuruti hasrat pengakuan ini, kamu bakal capek sendiri.
Rasulullah SAW itu udah paham banget soal tabiat asli manusia yang nggak pernah puas urusan dunia. Beliau ngasih perumpamaan yang savage banget:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia akan menginginkan lembah yang kedua. Dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya (memuaskan nafsunya) selain tanah (kematian). Dan Allah menerima tobat orang yang mau bertobat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tuh kan! Dikasih emas selebar lembah aja masih minta lembah kedua. Apalagi cuma dikasih validasi sosial. Nafsu manusia itu ibarat black hole, nggak bakal pernah penuh sampai mulut kita disumpel tanah kuburan.
Misi Mustahil Bernama "Validasi Manusia"
Ngejar pengakuan orang itu capek, bro. Hari ini kamu berhasil beli barang A biar dibilang keren, eh besok circle kamu udah pindah haluan ngebahas barang B. Ulama besar sekelas Imam Asy-Syafi'i udah ngasih warning keras dari zaman dulu lewat kalimat legendarisnya:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ
"Keridaan (penilaian baik) manusia adalah sebuah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai."
Jadi, ngapain ngabisin energi, waktu, pikiran, dan duit buat dapetin sesuatu yang mustahil? Sibuk nyari validasi manusia cuma bikin kamu kehilangan jati diri. Mending kejar rida Allah yang udah jelas pasti dan bikin hati tenang.
Hidup Itu Maraton, Pakai "Kacamata Kuda"
Bayangin kamu lagi ikut maraton. Rutenya panjang. Tapi, mata kamu sibuk nengok ke lintasan pelari lain. "Wah, sepatu dia lebih mahal", "Kok dia larinya lebih cepet ya?" Apa yang terjadi? Fokusmu pecah, napas ngos-ngosan, dan kamu bakal jatuh tersungkur.
Biar nggak gampang tumbang, kamu butuh "kacamata kuda" alias Qana'ah (merasa cukup dan rida dengan pemberian Allah). Di sinilah Rasulullah SAW ngasih definisi "orang kaya" atau crazy rich yang sesungguhnya. Kata Nabi, kaya itu bukan soal saldo rekening yang luber atau tumpukan barang branded:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang hatinya kaya dan punya mindset qana'ah ini adalah orang-orang yang hidupnya merdeka. Dia nggak butuh tepuk tangan buat ngerasa berharga. Rasulullah SAW ngasih stempel "sukses" buat orang-orang seperti ini:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah jadikan ia qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim)
Biar qana'ah ini makin kuat, ada satu lagi rumus anti-insecure paling jitu biar kita ngerem virus FOMO:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (HR. Muslim)
Awas Kena Gocek Ilusi Medsos!
Sering kan kita kena gocek (terkecoh) sama postingan orang? Lihat ada yang upload foto lagi mejeng di depan mobil keluaran terbaru, hati langsung ciut dan batin, “Duh, kapan ya gue bisa gitu?” Padahal realitanya? Belum tentu itu mobil dia! Bisa jadi itu cuma pinjem mobil temennya buat bahan story, atau nyewa mobil rental demi konten.
Atau yang lebih ngeri, beli mobilnya beneran tapi maksain diri pakai jalur riba yang dosanya bikin hidup nggak berkah. Kelihatannya aja aesthetic dan mewah, aslinya pusing dikejar-kejar tagihan tiap bulan.
Masa iya kamu mau insecure sampai kena mental gara-gara sesuatu yang cuma ilusi optik kayak gitu? Ngapain membandingkan behind the scene (proses berdarah-darah) hidupmu dengan highlight palsu hidup orang lain?
Time to Unfollow & Fokus Lintasanmu!
Mulai sekarang, cobain deh detox digital. Kalau ada akun yang tiap kali kamu lihat story-nya malah bikin insecure dan ngerasa miskin, mending mute atau unfollow aja. Lindungi kewarasanmu.
Fokus aja sama lintasan larimu sendiri. Syukuri kopi sasetan di rumah yang diseduh pakai air panas gratis, syukuri motor butut yang masih setia nemenin kamu ke mana-mana tanpa pusing mikirin cicilan. Hidup ini cuma sebentar, jangan dihabisin buat cosplay jadi orang lain demi terlihat "wah". Stay real, stay humble, pasang kacamata kudamu, dan nikmati proses lari maratonmu sendiri dengan hati yang tenang. *
