Fenomena iklim ekstrem yang dikenal sebagai “Godzilla El Nino” mulai menjadi perhatian serius pemerintah dan pelaku ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa fenomena ini berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi, terutama melalui kenaikan harga pangan di Indonesia.
Istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada kondisi El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang menyebabkan perubahan pola cuaca secara ekstrem. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor lingkungan, tetapi juga merambat hingga ke sektor ekonomi, khususnya ketahanan pangan dan stabilitas harga.
Secara ilmiah, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mengganggu pola cuaca global. Namun, ketika intensitasnya sangat kuat, fenomena ini disebut sebagai “Godzilla El Nino”.
Dalam kondisi ini, curah hujan di Indonesia menurun drastis, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.
Akibatnya, sektor pertanian yang sangat bergantung pada air menjadi salah satu yang paling terdampak. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produksi pangan secara signifikan.
Seorang pakar agroklimatologi dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan, “Kalau airnya kurang, pertumbuhan tanaman terganggu… bisa berujung gagal panen.”
BPS menyoroti bahwa penurunan produksi akibat kekeringan akan berdampak langsung pada pasokan pangan. Ketika produksi menurun, sementara permintaan tetap atau bahkan meningkat, maka harga pangan cenderung naik.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam sejarahnya, El Nino pernah menyebabkan penurunan produksi padi hingga beberapa persen, yang kemudian memicu lonjakan harga pangan.
Kondisi serupa juga terjadi dalam beberapa tahun terakhir. El Nino 2024, misalnya, menyebabkan penurunan produksi beras hingga jutaan ton, yang berdampak pada stabilitas harga di pasar domestik.
Dengan potensi “Godzilla El Nino” yang lebih kuat, risiko kenaikan harga pangan pada 2026 diperkirakan akan lebih besar.
Inflasi pangan (food inflation) menjadi komponen yang paling sensitif terhadap perubahan iklim. BPS mencatat bahwa komoditas seperti beras, cabai, dan bawang sering kali menjadi penyumbang utama inflasi ketika terjadi gangguan produksi.
Ketika kekeringan melanda, distribusi air untuk pertanian terganggu, sehingga hasil panen menurun. Dalam jangka pendek, hal ini akan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Lebih jauh, dampak inflasi pangan tidak hanya dirasakan oleh sektor ekonomi, tetapi juga oleh masyarakat luas, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Seorang analis ekonomi menyebut, “Inflasi pangan selalu paling terasa di masyarakat bawah.” Hal ini karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga digunakan untuk kebutuhan pangan.
Selain inflasi, “Godzilla El Nino” juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional. Indonesia yang masih memiliki ketergantungan pada beberapa komoditas impor akan menghadapi tantangan lebih besar jika produksi dalam negeri menurun.
Kekeringan ekstrem dapat menyebabkan gagal panen, krisis air bersih, hingga gangguan distribusi pangan.
Bahkan, dalam kondisi ekstrem, fenomena ini bisa memicu krisis pangan di beberapa wilayah, terutama daerah yang rentan terhadap kekeringan seperti Nusa Tenggara dan sebagian Jawa.
Efek “Godzilla El Nino” tidak berhenti pada sektor pertanian. Dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor lain, seperti:
-Kenaikan biaya produksi akibat kelangkaan bahan baku
-Penurunan daya beli masyarakat karena harga pangan naik
-Tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memperlambat pemulihan ekonomi, terutama jika inflasi tidak terkendali.
Pemerintah melalui berbagai lembaga telah mulai melakukan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino ekstrem.
Beberapa strategi yang disiapkan antara lain:
-Penguatan cadangan pangan nasional
-Program bantuan pangan bagi masyarakat
-Pengembangan teknologi pertanian tahan kekeringan
-Optimalisasi irigasi dan manajemen air
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan dampak negatif terhadap produksi dan harga pangan.
Para ahli menekankan bahwa kunci menghadapi “Godzilla El Nino” adalah kesiapan dan adaptasi. Informasi cuaca yang akurat, sistem peringatan dini, serta edukasi kepada petani menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko.
Selain itu, diversifikasi pangan dan penguatan produksi dalam negeri juga menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga.
Fenomena “Godzilla El Nino” bukan sekadar isu cuaca, tetapi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Dampaknya terhadap inflasi dan harga pangan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kelompok rentan.
BPS telah mengingatkan bahwa tekanan terhadap inflasi pangan berpotensi meningkat seiring dengan penurunan produksi akibat kekeringan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini bisa menjadi pemicu krisis yang lebih luas. Namun dengan langkah mitigasi yang tepat, dampaknya masih dapat ditekan dan dikendalikan.
